Ada sebuah momen di awal The Holy Grail of Eris karya Kujira Tokiwa yang tampak sepele namun menyimpan beban interpretatif yang luar biasa. Seorang anak perempuan berusia enam tahun berdiri di tepi kerumunan di Saint Mark's Square, terpisah dari temannya, dilanda kepanikan dan di tengah semua itu, matanya bertemu dengan mata seorang perempuan yang sedang berjalan menuju balok eksekusi. Kerumunan sedang berteriak-teriak. Kata-kata yang melayang di udara adalah kata-kata yang paling merendahkan yang bisa dilemparkan kepada seorang perempuan: pelacur, setan, pembunuh. Namun perempuan itu tidak memandang kerumunan. Ia memandang anak kecil itu, mengedipkan mata karena tampaknya terkejut melihat anak sekecil itu hadir di sana dan kemudian tersenyum. Bukan senyum yang memohon belas kasihan, bukan senyum yang menunjukkan ketakutan yang disembunyikan. Ia tersenyum seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menggelikan di tengah-tengah situasi yang paling tidak lucu di dunia. Itulah Scarlett Castiel, sepuluh tahun sebelum ia menjadi hantu, sepuluh tahun sebelum namanya menjadi sinonim dengan kejahatan dalam narasi resmi Kerajaan Adelbide.
Momen itu adalah pembuka yang sempurna untuk
sebuah karakter yang, dalam keseluruhan Volume 1 novel ini, menolak untuk
didefinisikan oleh siapapun selain dirinya sendiri bahkan setelah kematiannya. Esai ini
berargumen bahwa Scarlett Castiel bukan sekadar antihero yang menarik secara
estetis. Ia adalah sebuah konstruksi naratif yang bekerja secara simultan
sebagai kritik terhadap mekanisme kekuasaan, sebagai eksplorasi filsafat moral
yang menolak binarisme baik-jahat, dan sebagai interogasi terhadap cara-cara
perempuan bertahan dan berkuasa dalam sistem yang dirancang untuk membatasi
mereka. Membaca Scarlett hanya dari satu sudut pandang adalah kesalahan yang
sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Adelbide terhadapnya semasa
hidupnya: mereduksi kompleksitas menjadi label yang mudah ditelan.
Untuk memahami mengapa Scarlett menarik
perhatian analitis sedemikian rupa, perlu dimulai dari konteks naratif yang
membingkainya. The Holy Grail of Eris adalah novel yang terjadi di dunia
fiksi yang terinspirasi dari Eropa abad ke-19, di mana aristokrasi adalah
sistem sosial yang menentukan segalanya akses
terhadap kekuasaan, pergerakan tubuh, legitimasi suara, bahkan makna dari
sebuah nama. Dalam dunia seperti itu, Scarlett adalah putri seorang duke secara formal salah satu yang paling
istimewa. Namun novel ini dengan sangat cermat menunjukkan bahwa posisi formal
tidak pernah cukup melindungi seseorang dari mekanisme kekuasaan informal yang
jauh lebih brutal: gosip, pengkhianatan, aliansi yang dibeli dengan pernikahan,
dan narasi yang dikonstruksi oleh mereka yang berkuasa untuk melegitimasi
tindakan mereka sendiri. Scarlett dieksekusi atas tuduhan meracuni Putri
Mahkota sebuah tuduhan yang, semakin
dalam narasi berjalan, semakin jelas merupakan produk dari konspirasi yang
melibatkan orang-orang di lingkaran paling dalam kekuasaan. Ia dihancurkan
bukan karena ia benar-benar melakukan apa yang dituduhkan, melainkan karena ia
terlalu kuat, terlalu terlihat, dan terlalu enggan untuk menyembunyikan
ambisinya di balik topeng kelembutan yang diharapkan dunia dari seorang
perempuan.
Di sinilah dimensi politiknya mulai menampakkan
diri. Kematian Scarlett bukan sekadar tragedi personal ia adalah tindakan politis. Dalam tradisi
pemikiran Gramsci tentang hegemoni dan perlawanannya, narasi resmi tentang
seorang tokoh yang berbahaya, yang harus disingkirkan demi ketertiban sosial,
adalah mekanisme klasik bagaimana kekuasaan dominan melegitimasi dirinya
sendiri. Masyarakat Adelbide menerima eksekusi Scarlett bukan karena mereka
memeriksa bukti-buktinya, melainkan karena narasi tentang "perempuan jahat
yang mencoba meracuni putri mahkota" sudah cukup masuk akal dalam kerangka
nilai yang berlaku: perempuan yang terlalu ambisius adalah ancaman, dan ancaman
harus disingkirkan. Bahwa Randolph Ulster
seorang perwira militer senior yang cukup dekat dengan
peristiwa-peristiwa tersebut mengakui
bahwa ia menerima berita eksekusi itu begitu saja tanpa merasa perlu untuk
merasa curiga, adalah bukti betapa efektifnya mekanisme ini bekerja bahkan pada
orang-orang yang secara pribadi mengenal Scarlett. Ia berkata kepada Connie,
dengan nada yang justru karena ketenangannya terasa sangat mengungkapkan:
"Saya menganggapnya sebagai cara yang bodoh dan tak terduga untuk
mati." Tidak ada kemarahan, tidak ada pertanyaan. Hanya penerimaan yang
gelisah dari orang yang, jauh di dalam dirinya, mungkin tahu ada sesuatu yang
tidak beres namun tidak cukup peduli untuk menyelidikinya dan yang kini, sepuluh tahun kemudian,
mengakui bahwa ketidakpedulian itu salah.
Status Scarlett sebagai hantu, yang dalam
konteks genre sering diperlakukan sebagai perangkat plot supernatural, dalam
novel ini berfungsi sebagai metafora politik yang sangat kuat. Ia hadir tanpa
tubuh yang dalam kerangka pemikiran
Hannah Arendt tentang tindakan dan kehadiran publik, berarti ia tidak bisa
bertindak secara langsung di ruang publik yang membutuhkan kehadiran fisik
untuk bisa diakui. Namun kehadirannya yang tidak bertubuh justru mengungkapkan
sesuatu yang penting: bahwa pengaruh, pengetahuan, dan kekuasaan tidak
memerlukan tubuh untuk eksis. Scarlett masih mengenal nama-nama pemain di papan
catur aristokrasi, masih ingat pola-pola aliansi dan pengkhianatan, masih bisa
membaca situasi dengan presisi yang tidak dimiliki Connie yang hidup tapi
polos. Yang tidak dimilikinya adalah akses langsung ke ruang-ruang di mana
kekuasaan dieksekusi ruang-ruang yang,
secara sangat simbolis, hanya bisa dimasukinya melalui tubuh orang lain.
Ketergantungan Scarlett pada Connie bukan sekadar detail plot; ia adalah
representasi dari kondisi yang dialami banyak mereka yang terpinggirkan dari
mekanisme kekuasaan formal: pengetahuan yang cukup untuk memahami sistemnya,
namun tidak cukup akses untuk mengubahnya secara langsung, sehingga harus
bekerja melalui jalur-jalur tidak langsung, melalui perantara, melalui alliansi
yang dibangun di atas kepercayaan yang tidak pernah sepenuhnya simetris.
Hubungan Scarlett-Connie adalah simbiosis yang
menarik justru karena ketidaksimetrisannya. Scarlett memberikan kepada Connie:
pengetahuan tentang sistem sosial aristokrasi, keberanian untuk bertindak,
strategi manipulasi yang efektif, dan akses ke jaringan yang Connie sendiri
tidak akan pernah bisa bangun dalam waktu singkat. Connie memberikan kepada
Scarlett: tubuh yang bisa bergerak bebas, legitimasi sebagai sosok yang masih
hidup, dan ini yang paling sering
diabaikan kemampuan membaca manusia
secara emosional yang Scarlett tidak miliki. Ketika Scarlett membutuhkan
seseorang untuk menjaga ketenangan di hadapan Randolph Ulster yang menakutkan,
bukan pengetahuannya sendiri yang menyelamatkan situasi, melainkan kemampuannya
untuk melihat bahwa Connie bisa menemukan ketenangan dengan cara yang
sederhana: dengan bertemu mata seseorang yang ia percaya. Interdependensi ini
menolak untuk menempatkan salah satu di atas yang lain dan justru dalam penolakan hierarki itulah
novel ini paling subversif.
Namun dimensi yang paling menantang dari
konstruksi Scarlett terletak bukan pada posisi politiknya, melainkan pada
posisi filosofis-moralnya. Novel ini tidak memberikan kepada pembaca kemewahan
untuk menilai Scarlett dengan mudah. Ia tidak hadir dengan backstory tragis
yang cukup untuk memintakan simpati pembaca secara manipulatif ya, ada elemen kesengsaraan dalam hidupnya,
ada isolasi, ada pengkhianatan. Namun novel ini tidak menggunakannya sebagai
alasan untuk perilaku Scarlett. Scarlett tidak memohon untuk dipahami; ia
menuntut untuk diakui. Dan perbedaan antara memohon pemahaman dan menuntut
pengakuan adalah, dalam konteks filsafat moral, sangat signifikan. Nietzsche,
dalam Beyond Good and Evil (1886), membedakan antara moralitas tuan (master
morality) yang bersumber dari
kekuatan, yang mendefinisikan nilai dari dalam dirinya sendiri dan moralitas budak (slave morality) yang bersumber dari reaksi terhadap kekuatan
eksternal, yang mendefinisikan kebaikan sebagai kebalikan dari apa yang
dimiliki oleh yang berkuasa. Scarlett, dalam kategorisasi Nietzschean ini,
adalah tipe master morality yang paling murni: ia tidak mendefinisikan dirinya
berdasarkan apa yang diharapkan masyarakat darinya, tidak mencari validasi dari
sistem yang sudah menghukumnya, dan tidak berpura-pura bahwa nilai-nilai yang
ia pegang bersumber dari suatu prinsip universal yang suci. Ia mengetahui dengan
tepat apa yang ia inginkan, mengapa ia menginginkannya, dan cara apa yang akan
ia gunakan untuk mendapatkannya.
Yang membuat ini secara filosofis lebih
kompleks dari sekadar glorifikasi nietzschean adalah cara novel ini menampilkan
ironi yang tertanam dalam keaslian Scarlett itu sendiri. Justru karena ia
terlalu transparan dalam ambisinya, terlalu jelas dalam kehendaknya, terlalu
autentik untuk bermain-pura-pura lemah, ia menjadi target yang mudah. Cecilia Putri Mahkota yang kemudian menjadi tokoh
utama dalam konspirasi yang menghancurkan Scarlett mewakili sesuatu yang secara superfisial
terlihat seperti slave morality: kelembutan, kerendahan hati, penampilan
kebaikan yang simpatik. Namun dalam praktiknya, Cecilia menggunakan penampilan
tersebut dengan sangat strategis untuk menutupi tindakan-tindakan yang, secara
moral, tidak kalah kejamnya dari apa yang pernah dilakukan Scarlett. Kemenangan
Cecilia atas Scarlett bukan kemenangan moralitas yang lebih tinggi ia adalah kemenangan pemain yang lebih lihai
dalam menyembunyikan permainannya. Novel ini menolak untuk memberikan penilaian
moral yang jelas atas dinamika ini, dan dalam penolakan itu tersimpan sebuah
argumen yang sangat menyakitkan: bahwa sistem yang ada tidak menghargai
kebaikan, melainkan menghargai keahlian dalam berpenampilan baik.
Dimensi gender dari konstruksi Scarlett
mengalir secara organis dari dua dimensi sebelumnya. Dalam masyarakat
patriarkal Adelbide seperti dalam hampir
semua masyarakat patriarkal ada dikotomi
yang sangat spesifik tentang cara perempuan seharusnya menggunakan kekuatan
yang mereka miliki. Kekuatan yang terlihat, yang diekspresikan secara langsung,
yang tidak meminta maaf atas keberadaannya, adalah kekuatan yang mengancam dan
harus dihancurkan. Kekuatan yang tidak terlihat
yang bekerja melalui pengaruh tidak langsung, melalui senyuman yang
tepat, melalui ekspresi kesedihan yang menggerakkan orang lain untuk bertindak
atas nama perempuan itu adalah kekuatan
yang dapat diterima, bahkan dipuji. Lily Orlamunde adalah representasi sempurna
dari kekuatan jenis kedua ini. Scarlett menggambarkannya dengan sangat tajam
dalam satu monolog: Lily tidak akan melakukan apapun secara langsung. Ia hanya
akan menatap dengan ekspresi sedih, bergumam sesuatu yang terdengar mulia dan para pengagumnya akan bertindak sendiri.
Sementara Scarlett sendiri menggunakan hard power konfrontasi langsung, dominasi terbuka,
penghinaan publik Lily menggunakan apa
yang dalam teori hubungan internasional disebut soft power: daya tarik,
legitimasi moral, kemampuan untuk menggerakkan orang lain tanpa terlihat sedang
menggerakkan siapapun.
Ini bukan sekadar perbedaan gaya ini adalah perbedaan yang memiliki
konsekuensi eksistensial yang berbeda. Lily selamat. Scarlett tidak. Dan
pertanyaan yang novel ini ajukan, tanpa memberikan jawaban yang mudah, adalah:
apakah ini berarti strategi Lily lebih baik? Lebih benar secara moral? Ataukah
ini semata-mata berarti bahwa sistem yang ada lebih toleran terhadap kekuasaan
perempuan yang tidak terlihat daripada yang terlihat, dan bahwa
"keselamatan" Lily bukanlah bukti keunggulan moralnya melainkan bukti
keberhasilannya dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sistem yang
sendirinya patut dipertanyakan? Novel ini tidak memihak. Ia menampilkan kedua
strategi dengan konsekuensinya masing-masing, dan membiarkan pembaca bergelut
dengan ketidaknyamanan bahwa tidak ada pilihan yang bersih di sini bahwa setiap cara yang digunakan perempuan
untuk bertahan dalam sistem patriarkal memiliki biayanya sendiri, dan bahwa
menilai salah satu sebagai superior adalah tindakan yang terlalu mewah bagi
mereka yang tidak harus membayar biaya tersebut.
Dalam kerangka teori feminis, debat antara
Scarlett dan Lily meresonansikan pertanyaan lama yang sampai sekarang belum
menemukan resolusi yang memuaskan: haruskah perempuan yang ingin berkuasa dalam
sistem patriarkal mengadopsi strategi dan nilai-nilai patriarkal itu sendiri,
atau haruskah mereka menemukan cara-cara alternatif yang, secara teoritis,
lebih selaras dengan nilai-nilai yang tidak tercemar oleh logika dominasi?
Perempuan yang memilih strategi pertama sering dituduh telah "menjadi
seperti laki-laki" atau telah menginternalisasi penindasan mereka sendiri.
Perempuan yang memilih strategi kedua sering dituduh naif, tidak efektif, atau ironi paling pahit menggunakan ketidakberdayaan sebagai senjata
yang justru memperkuat stereotip tentang perempuan sebagai pihak yang
membutuhkan perlindungan. Scarlett tidak termasuk dalam kategori mana pun ini
secara bersih: ia menggunakan strategi patriarkal bukan karena ia
menginternalisasi nilai-nilainya, melainkan karena ia memahami bahwa itulah
bahasa yang dimengerti oleh sistem yang ingin ia lawan. Dan dalam pemahaman itu
tersimpan sesuatu yang, dalam konteks teori feminis Simone de Beauvoir,
mendekati konsep otentisitas pilihan
yang dibuat dengan kesadaran penuh tentang kondisi-kondisi yang membingkainya,
bukan sebagai kepatuhan pasif pada norma yang diterima tanpa pertanyaan.
Nama samaran Scarlett Eris menyediakan
lapisan terakhir yang mengikat semua dimensi ini menjadi satu. Dalam mitologi
Faris yang menjadi fondasi budaya Adelbide, Eris adalah dewi perselisihan yang
pernah menghancurkan sebuah kerajaan. Namun secara bersamaan, dalam mitologi
yang sama, objek yang menjadi judul novel ini
Graal Suci Eris adalah bejana
panen yang memiliki kekuatan penyembuhan. Kehancuran dan keberkahan,
perselisihan dan pemulihan, dalam satu nama, dalam satu objek. Paradoks ini
bukan kebetulan naratif; ia adalah pernyataan tematik yang paling eksplisit
dalam seluruh teks. Scarlett memilih nama ini secara sadar, dengan penuh
pengetahuan tentang konotasinya, sebagai ekspresi dari pemahamannya tentang
dirinya sendiri: ia adalah kekuatan yang bersifat ambivalen, yang tidak bisa
direduksi menjadi simbol kehancuran semata tanpa kehilangan setengah dari
kebenarannya.
Dalam filsafat Hannah Arendt, terdapat konsep natality kemampuan untuk memulai sesuatu yang sama
sekali baru di dunia, kemampuan yang, menurut Arendt, adalah prasyarat dari
tindakan politik yang sesungguhnya. Natality inheren berisiko karena apa yang
dimulai tidak pernah sepenuhnya dapat dikontrol oleh yang memulainya seperti benih yang tidak bisa menentukan arah
pertumbuhannya sendiri setelah ditanamkan. Scarlett, meskipun sudah mati,
adalah figur natality dalam pengertian ini: kemunculannya kembali dalam
kehidupan Connie memulai sesuatu yang tidak dapat dikendalikan oleh siapapun sebuah proses pengungkapan kebenaran,
pembongkaran korupsi, dan perombakan posisi kekuasaan yang dampaknya jauh
melampaui tujuan balas dendam personal yang ia nyatakan di permukaan.
Pesan terakhir Lily Orlamunde "Hancurkan Graal Suci Eris" bisa dibaca dengan dua cara yang bertolak
belakang, dan justru ketegangan antara dua pembacaan itu yang paling
mengungkapkan. Pembacaan pertama: hancurkan Scarlett, hancurkan kekuatan yang
mengancam, kembalikan ketertiban. Pembacaan kedua dan ini yang lebih subversif, lebih menarik
secara analitis: hancurkan mitos tentang Scarlett, hancurkan narasi yang
dikonstruksi oleh mereka yang berkuasa untuk menjustifikasi penghancurannya,
hancurkan bukan orangnya melainkan ketidakadilan yang mengizinkan orang-orang
sepertinya untuk dieksekusi berdasarkan tuduhan yang tidak pernah benar-benar
diperiksa. Dalam pembacaan kedua ini, Scarlett bukan objek yang harus
dihancurkan ia adalah instrumen
penghancuran yang diperlukan.
Dan mungkin itulah yang paling mengganggu
sekaligus paling jujur dari The Holy Grail of Eris: bahwa untuk
mengungkap kebenaran dalam sistem yang korup, yang dibutuhkan bukanlah pahlawan
yang bersih tangan dan hati murni, melainkan seseorang yang sudah terlanjur
tidak punya yang perlu dilindungi seseorang
yang sudah mati, yang sudah kehilangan segalanya, yang karena itu tidak lagi
takut pada konsekuensi. Scarlett Castiel adalah figur yang hanya bisa menjadi
dirinya sendiri sepenuhnya setelah ia mati. Dan dalam ironi yang pahit
sekaligus indah itu, novel ini mengatakan sesuatu yang sangat nyata tentang
dunia yang kita huni: bahwa sistem yang paling efektif dalam membungkam
orang-orang yang paling jelas melihat kebobrokannya adalah sistem yang paling
perlu dipertanyakan.
Referensi
Arendt, H. (1958). The human condition.
University of Chicago Press.
Azuma, H. (2009). Otaku: Japan's database
animals (J. E. Abel & S. Kono, Trans.). University of Minnesota Press.
de Beauvoir, S. (1949/2010). The second sex
(C. Borde & S. Malovany-Chevallier, Trans.). Knopf.
Gramsci, A. (1971). Selections from the
prison notebooks (Q. Hoare & G. N. Smith, Trans.). International
Publishers.
Nietzsche, F. (1886/2002). Beyond good and
evil: Prelude to a philosophy of the future (J. Norman, Trans.). Cambridge
University Press.
Napier, S. J. (2005). Anime from Akira to
Howl's Moving Castle: Experiencing contemporary Japanese animation.
Palgrave Macmillan.
Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to
success in world politics. PublicAffairs.
Sugimoto, S., Hae-sung, O., & Yoomin, N. (2019, March). Contemporary Light Novels: Subculture, Literature, and Morality. In Forum for World Literature Studies (Vol. 11, No. 1, pp. 134-46). Wuhan Guoyang Union Culture & Education Company.
Tokiwa, K. (2021). The Holy Grail of Eris
(W. Bird, Trans.). Yen Press. (Original work published 2019)
Welker, J. (2011). Flower tribes and female desire: Complicating early female consumption of male homosexuality in shōjo manga. Mechademia, 6(1), 211-228.
0 Comments