Bisikan, Dansa, dan Kekuasaan: Politik Feminin sebagai Sistem Kekuasaan yang Sah dalam The Holy Grail of Eris Karya Kujira Tokiwa




Ketika Kekuasaan Tidak Bersuara Keras

Dalam sebagian besar narasi fantasi, kekuasaan direpresentasikan melalui pedang, sihir, atau deklarasi perang. Kekuatan adalah sesuatu yang tampak, terdengar, dan terasa berat. Namun dalam novel ringan The Holy Grail of Eris (Eris no Seihai, 2016) karya Kujira Tokiwa, kekuasaan bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda ia berbisik di balik kipas, tertanam dalam pilihan warna gaun, dan bergerak melalui waktu senyuman yang tepat di sebuah pesta dansa. Ini adalah kekuasaan yang tidak berteriak, tetapi justru karena itu, ia jauh lebih sulit dilawan.

Blog ini berargumen bahwa The Holy Grail of Eris bukan sekadar novel misteri supernatural dengan latar aristokrasi Eropa fantasi. Ia adalah sebuah teks yang dengan sadar dan canggih mengonstruksi politik feminin sebagai sistem kekuasaan yang sah, kompleks, dan setara bahkan melebihi sistem kekuasaan maskulin yang lebih sering mendapatkan validasi dalam narasi genre. Dengan menganalisis dinamika tokoh utama Constance Grail dan arwah Scarlett Castiel, serta elemen semiotik aristokrasi yang dibangun dalam teks, argumen ini akan menunjukkan bahwa novel ini menawarkan sebuah kerangka baca yang relevan bagi kajian budaya populer, studi gender, dan kritik sastra genre.

Representasi Kekuasaan Perempuan dalam Light Novel

Dalam kajian sastra populer Jepang, light novel seringkali dipandang sebagai medium yang tunduk pada konvensi genre yang dangkal isekai, harem, power fantasy dengan representasi perempuan yang cenderung berfungsi sebagai aksesori naratif daripada agen kekuasaan yang independen. Namun anggapan ini mengabaikan sebagian tradisi panjang dalam kesusastraan Jepang yang menempatkan perempuan sebagai subjek politik yang aktif. Konsep mono no aware dan kompleksitas karakter perempuan dalam Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu adalah salah satu contoh awal bagaimana sastra Jepang telah lama menempatkan ruang feminin sebagai arena kekuasaan yang tidak kalah intens dari medan perang.

Dalam konteks yang lebih kontemporer, penelitian terhadap representasi gender dalam media populer Jepang menunjukkan adanya pergeseran bertahap. Perempuan dalam narasi yang lebih baru tidak lagi sekadar digambarkan sebagai objek perlindungan, tetapi sebagai subjek yang menggerakkan plot melalui kecerdasan sosial, jaringan relasional, dan penguasaan terhadap kode-kode budaya yang berlaku dalam komunitas mereka. The Holy Grail of Eris berdiri di titik paling terdepan dari pergeseran ini. Keistimewaannya bukan pada kenyataan bahwa protagonisnya perempuan, melainkan pada kenyataan bahwa cara mereka berkuasa dikonstruksi sebagai sesuatu yang memerlukan kecerdasan, strategi, dan pengetahuan mendalam tentang sistem sosial yang mereka huni.

Mengidentifikasi Kesenjangan: Apa yang Sering Diabaikan dalam Membaca Novel Ini

Sebagian besar ulasan populer terhadap The Holy Grail of Eris berfokus pada dinamika komedi antara Connie dan Scarlett, pada elemen misteri yang melibatkan bunuh diri Lily Orlamunde, atau pada daya tarik estetik latar aristokrasi abad kesembilan belasan yang diimajinasikan ulang. Yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana novel ini membangun sebuah argumen yang sangat konsisten dan metodis tentang sifat kekuasaan itu sendiri bahwa kekuasaan dalam dunia Adelbide bukan milik pihak yang paling kuat secara fisik atau paling tinggi pangkatnya secara formal, melainkan milik pihak yang paling mampu membaca, memanipulasi, dan memainkan sistem simbolik yang mengatur interaksi sosial aristokrasi.

Kesenjangan inilah yang perlu diisi. Membaca novel ini semata sebagai hiburan ringan berarti melewatkan lapisan analitisnya yang paling subversif: bahwa sistem kekuasaan yang selama ini dikesampingkan sebagai "urusan perempuan" pesta dansa, korespondensi, fashion, reputasi adalah sistem kekuasaan yang sesungguhnya paling menentukan nasib karakter-karakter di dalamnya.

Scarlett, Connie, dan Anatomi Kekuasaan Feminin

Titik masuk paling produktif untuk membaca politik feminin dalam novel ini adalah melalui konstruksi dua tokoh utamanya. Constance "Connie" Grail adalah putri viscount yang tidak cantik, tidak kaya, dan tidak memiliki kecakapan sosial yang menonjol. Dalam tatanan aristokrasi patriarkal yang digambarkan dalam novel, ia adalah figur yang tidak memiliki modal apa pun kecuali satu: ketulusan dan kemampuan membaca orang secara emosional. Scarlett Castiel, di sisi lain, adalah arwah seorang wanita bangsawan yang telah dieksekusi sepuluh tahun sebelumnya atas tuduhan yang, seiring berjalannya narasi, semakin jelas merupakan produk konspirasi politik. Scarlett memiliki semua yang tidak dimiliki Connie: kecantikan, kharisma, kepercayaan diri yang kejam, dan penguasaan total atas kode-kode sosial aristokrasi.

Yang membuat konstruksi ini jauh lebih menarik dari sekadar pasangan komedi adalah cara novel ini menolak untuk menempatkan satu di atas yang lain. Connie dan Scarlett tidak berada dalam relasi hierarkis mereka berada dalam relasi interdependensi. Dalam adegan bola yang menjadi salah satu sekuens kekuasaan paling mengesankan dalam teks, Scarlett merasuki Connie dan menggunakan tubuhnya untuk merendahkan Pamela Francis di depan seluruh tamu undangan. Narasi menggambarkan efeknya: "Her back held straight, Constance gracefully lifted the flowing hem of her dress. Then, with a smooth gesture, she lowered her head. Her etiquette was so natural and flawless, even Pamela forgot her outrage for a moment and stared in awe." Ini adalah momen di mana kekuasaan feminin bekerja secara penuh bukan melalui konfrontasi verbal atau kekerasan, tetapi melalui performance yang sempurna dari kode-kode kesopanan aristokrasi yang dibalik menjadi senjata.

Namun yang perlu dicatat adalah bahwa kemenangan ini tidak mungkin terjadi tanpa Connie. Scarlett memiliki pengetahuan tentang sistem, tetapi ia tidak memiliki tubuh, tidak memiliki konteks sosial masa kini, dan tidak memiliki koneksi emosional dengan orang-orang di sekitar Connie. Connie menyediakan semua itu. Relasi mereka menggambarkan bahwa kekuasaan feminin yang efektif bukan milik individu tunggal ia adalah produk dari jaringan, kepercayaan, dan pembagian sumber daya yang saling melengkapi.

Semiotika Aristokrasi sebagai Sistem Kekuasaan

Salah satu pencapaian naratif paling signifikan dari The Holy Grail of Eris adalah caranya menempatkan elemen-elemen yang tampak dekoratif sebagai sistem kode yang bermuatan politik penuh. Dalam tradisi kajian semiotika, sistem tanda bekerja sebagai sarana komunikasi yang melampaui makna denotatif ia membawa makna konotatif, ideologis, dan relasional yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang memiliki akses terhadap kode tersebut. Novel ini bekerja persis demikian.

Bunga kamellia, misalnya, bukan sekadar ornamen estetika. Dalam korespondensi aristokrasi Adelbide, kamellia menyimbolkan pemenggalan kepala. Mengirimkan surat yang dihiasi kamellia kepada seseorang adalah tindakan politik yang sangat spesifik sebuah ancaman terselubung yang hanya dapat dibaca oleh penerimanya yang memahami kode tersebut, sementara bagi pengamat luar ia tampak sebagai komunikasi yang anggun dan tidak berbahaya. Ini adalah sistem kekuasaan yang beroperasi tepat karena ketidakjelasannya bagi pihak luar kekuasaan yang eksis justru di dalam lapisan-lapisan makna yang tidak terlihat.

Demikian pula dengan pesta bertopeng (masked ball) sebagai ruang transgresi yang performatif. Ketika identitas disembunyikan di balik topeng, hierarki sosial yang biasanya menentukan siapa boleh berbicara kepada siapa menjadi cair sementara. Namun ini bukan berarti kekuasaan menghilang ia justru dimainkan ulang dalam bentuk yang lebih murni, karena tanpa identitas formal, yang tersisa hanyalah kemampuan membaca situasi, memilih kata, dan menentukan timing. Dalam konteks ini, Scarlett melaluinya, dan  Connie memiliki keunggulan absolut.

Bahasa tubuh di pesta dansa curtsy, posisi jari, arah tatapan berfungsi sebagai bahasa diplomatik yang tidak memerlukan kata-kata. Dalam kajian komunikasi nonverbal, gestur-gestur semacam ini adalah bentuk impression management yang sangat terlatih, dan dalam konteks aristokrasi novel ini, mereka berfungsi sebagai sinyal status, niat, dan aliansi yang dibaca secara instan oleh semua pihak yang berkompeten. Novel ini menampilkan arena sosial aristokrasi feminin bukan sebagai ruang yang trivial, tetapi sebagai medan pertempuran yang membutuhkan kecerdasan, latihan, dan keberanian yang tidak kalah dari medan perang konvensional.

Mengapa Ini Penting bagi Kajian Budaya?

Argumen bahwa politik feminin dalam The Holy Grail of Eris adalah sistem kekuasaan yang sah dan kompleks memiliki implikasi yang melampaui analisis satu teks. Pertama, ia menantang hierarki implisit dalam studi genre yang cenderung menilai teks berdasarkan seberapa mirip narasi mereka dengan konvensi yang dianggap "serius" yakni narasi yang berpusat pada konflik fisik, kekuasaan formal, dan subjektivitas maskulin. Kedua, ia menyarankan bahwa budaya populer Jepang, ketika dibaca dengan cermat, menawarkan model-model representasi kekuasaan perempuan yang lebih nuanced dari yang sering diasumsikan dalam kritik media mainstream. Ketiga, ia membuka ruang untuk membaca light novel tidak sekadar sebagai produk konsumsi, tetapi sebagai teks yang bernegosiasi dengan pertanyaan-pertanyaan nyata tentang gender, kekuasaan, dan legitimasi dalam konteks budaya yang spesifik.

Kekuasaan yang Tidak Perlu Berteriak

The Holy Grail of Eris adalah novel yang mengerti betul bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang terlihat. Ia ada dalam surat yang ditulis dengan tinta harum dan dihiasi bunga yang artinya hanya diketahui oleh penerimanya. Ia ada dalam senyum yang datang setengah detik terlambat. Ia ada dalam curtsy yang terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan. Dan ia ada dalam dua perempuan satu yang hidup, satu yang telah mati yang bersama-sama menguasai semua kode itu lebih baik dari siapapun di ruangan.

Membaca novel ini hanya sebagai hiburan ringan adalah sebuah kekeliruan yang, ironisnya, persis sama dengan kekeliruan yang dilakukan oleh para antagonis dalam ceritanya: meremehkan sesuatu karena penampilannya yang anggun dan tidak mengancam. Padahal justru di situlah seluruh kekuatannya tersimpan.

Referensi

Azuma, H. (2009). Otaku: Japan's database animals (J. E. Abel & S. Kono, Trans.). University of Minnesota Press.

Gill, R., & Arthurs, J. (2006). New femininities? Feminist Media Studies, 6(4), 443–451. https://doi.org/10.1080/14680770600989855

Kelts, R. (2007). Japanamerica: How Japanese pop culture has invaded the US. Palgrave Macmillan.

Napier, S. J. (2005). Anime from Akira to Howl's Moving Castle: Experiencing contemporary Japanese animation. Palgrave Macmillan.

Ōta, T. (2012). The formation of a new subculture: Light novel readers and their practices. International Journal of Japanese Sociology, 21(1), 62–75. https://doi.org/10.1111/j.1475-6781.2012.01160.x

Schodt, F. L. (1996). Dreamland Japan: Writings on modern manga. Stone Bridge Press.

Tokiwa, K. (2021). The Holy Grail of Eris (J. Treuthart, Trans.). Yen Press. (Original work published 2016)

Welker, J. (2011). Flower tribes and female desire: Complicating early female consumption of male homosexuality in shōjo manga. Mechademia, 6(1), 211–228. https://doi.org/10.1353/mec.2011.0004

0 Comments