Aku masih ingat betul momen itu berada di sebuah desa yang cukup jauh dari pusat kota, membicarakan anime yang sedang aku tonton, lalu disambut tawa dan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarku. Bukan tawa yang ramah. Tawa yang menempatkanmu di luar lingkaran. Di kota, di kampus, di antara teman-teman dan bahkan dosen, menyukai anime adalah hal yang biasa ada yang suka Attack on Titan, ada yang hafal semua arc Naruto, ada yang koleksi manga. Tapi di sana, di desa itu, aku sadar bahwa sesuatu yang lazim di satu tempat bisa menjadi bahan ejekan di tempat lain. Dan dari pengalaman itu muncul satu pertanyaan yang terus menggangguku: apakah stigma buruk terhadap wibu sebenarnya adalah stigma yang kampungan?
Apa Itu Wibu, dan Mengapa Kata Ini Terasa
Seperti Hinaan?
Kata "wibu"
dalam KBBI didefinisikan sebagai seseorang yang terobsesi dengan budaya dan
cara hidup Jepang. Istilah ini berasal dari kata bahasa Inggris weeaboo,
yang pertama kali muncul dari komik The Perry Bible Fellowship
karya Nicholas Gurewitch, lalu diadopsi sebagai istilah ejekan di forum
internet 4chan untuk menggantikan kata wapanese gabungan
dari white dan Japanese yang digunakan untuk mengejek orang
non-Jepang yang terobsesi dengan budaya pop Jepang. Seiring waktu, istilah ini
menyebar ke Indonesia, mengalami adaptasi bunyi menjadi "wibu", dan
membawa serta konotasi negatif asalnya.
Yang menarik adalah
bagaimana konotasi negatif itu kemudian hidup subur di masyarakat Indonesia,
bahkan di kalangan orang yang belum pernah menonton satu episode anime pun.
Istilah "wibu" sering digunakan dengan nada merendahkan untuk
menggambarkan individu yang dianggap memiliki ketertarikan berlebihan terhadap
budaya Jepang, terutama anime dan manga. Stereotip yang melekat pun menjadi
panjang dan tidak ramah: antisosial, malas, kekanak-kanakan, aneh, bahkan dan
ini yang paling tidak ilmiah disebut "bau bawang." Wibu menerima
berbagai macam stigma sosial yang negatif seperti dianggap orang yang aneh,
kurang bersosialisasi, jarang keluar rumah, mesum, memakai kostum aneh,
dianggap kekanak-kanakan dan dijauhi oleh masyarakat sekitar.
Pertanyaannya bukan
apakah stereotip itu akurat jelas tidak, dan akan kita bahas. Pertanyaannya
adalah: dari mana stigma ini datang, dan mengapa begitu mudah diterima?
Akar Stigma:
Ketidaktahuan yang Berpakaian Norma
Stigma bisa disebabkan
karena kurangnya edukasi banyak orang tidak memahami apa itu wibu dan
menganggapnya sebagai perilaku menyimpang. Ketidaktahuan ini dapat menciptakan
ruang bagi stereotip negatif untuk berkembang. Selain itu, representasi buruk
di media tentang penggemar anime dan manga sering kali memperkuat pandangan
negatif masyarakat.
Ini adalah mekanisme
yang sangat manusiawi, sekaligus sangat bermasalah. Ketika seseorang tidak
memiliki akses terhadap suatu fenomena budaya tidak pernah menonton anime,
tidak punya teman yang terlibat dalam komunitas tersebut, tidak terpapar
diskusi kritis tentangnya maka satu-satunya sumber informasi mereka adalah
gosip, meme, dan stereotip yang beredar. Dan stereotip, seperti yang kita tahu,
cenderung hidup bukan karena kebenarannya, melainkan karena kemudahan
penyebarannya.
Di sinilah faktor
geografis menjadi relevan. Komunitas wibu di Indonesia tumbuh pesat di
kota-kota besar, didorong oleh akses internet, ketersediaan platform streaming,
dan ekosistem komunitas yang mendukung festival anime, klub kampus, grup media
sosial. Platform media sosial seperti Facebook menjadi rumah bagi komunitas
wibu yang sangat besar dan aktif. Meskipun komunitas ini sangat hidup,
pengaruhnya dalam mempromosikan budaya Jepang secara luas kepada masyarakat
umum dinilai masih terbatas, karena kegiatannya cenderung eksklusif bagi para
penggemar saja. Artinya, komunitas ini besar dan aktif tetapi jangkauannya
tidak merata. Di daerah yang akses internetnya terbatas, yang tidak punya
bioskop, yang komunitas anak mudanya tidak terpapar budaya pop global secara
intensif, pemahaman tentang anime dan wibu berhenti pada caricature
terburuknya: bocah yang lupa mandi, tidak produktif, dan ngomong pakai bahasa
campuran yang terdengar aneh.
Ejekan yang aku terima
di desa itu bukan datang dari kejahatan. Ia datang dari keterbatasan akses keterbatasan
yang kemudian berubah menjadi penilaian moral.
Stigma Bukan Cermin
Kenyataan
Satu klaim yang paling
sering dilontarkan terhadap wibu adalah bahwa mereka antisosial dan tidak mampu
bersosialisasi. Penelitian justru menunjukkan sebaliknya. Para wibu justru
memiliki *sense of belonging* yang kuat. Mereka membangun jejaring mereka sendiri
dan menginisiasi berbagai komunikasi intens antar sesamanya di ruang daring
atau luring. Mereka mengafirmasi kesukaan tiap individu dengan saling bertukar
perbincangan seputar hobi mereka bahkan informasi juga pengetahuan di luar
kecintaan mereka terhadap budaya populer Jepang.
Ini bukan gambaran orang
yang antisosial. Ini gambaran komunitas yang kohesif komunitas yang membangun
jaringan sosialnya sendiri, hanya saja jaringan itu tidak selalu terlihat oleh
orang luar karena beroperasi di ranah yang berbeda.
Klaim kedua yang sering
muncul adalah bahwa wibu "mengkhianati budaya lokal" karena terlalu
terobsesi dengan Jepang. Ini adalah argumen yang terdengar nasionalistik, tapi
rapuh secara logika. Seseorang yang menyukai K-Pop, yang mengikuti Liga Inggris,
yang hafal lirik lagu Amerika, yang mengenakan pakaian bermerek asing tidak
pernah distigma dengan cara yang sama. Mengapa? Karena budaya yang satu sudah
"normal" dan yang lain belum. Normalitas, dalam konteks ini, bukan
soal nilai tapi soal seberapa lama sesuatu sudah hadir dan dikenal di tengah
masyarakat tertentu.
Jadi, Apakah Stigma
terhadap Wibu Itu Kampungan?
Kembali ke pertanyaan
awal dan aku akan menjawabnya dengan hati-hati, bukan karena ingin menghindari
kontroversi, tapi karena jawabannya lebih nuanced dari sekadar ya atau tidak.
Stigma terhadap wibu bukan
produk dari desa atau kota sebagai entitas geografis. Ia adalah produk dari keterbatasan
eksposur terhadap suatu fenomena budaya dan keterbatasan eksposur itu,
secara faktual, lebih sering terjadi di daerah yang aksesnya terhadap budaya
populer global lebih terbatas. Tapi orang kota pun bisa menyimpan stigma yang
sama jika tidak pernah benar-benar mengenal komunitas ini. Dan orang desa yang
punya akses luas terhadap internet bisa sangat terbuka terhadap budaya anime.
Dalam masyarakat yang
menjunjung norma tertentu, individu yang berbeda sering kali menjadi sasaran
stigma. Wibu dianggap menyimpang karena ketertarikannya terhadap budaya asing.
Yang perlu dipertanyakan bukan individunya tapi normanya. Norma apa yang
membuat kecintaan terhadap animasi Jepang dianggap lebih "menyimpang"
dibanding kecintaan terhadap olahraga, musik barat, atau drama Korea? Jika
jawabannya hanya "karena itu sudah umum", maka kita sedang menggunakan
popularitas sebagai pengganti kebenaran dan itu adalah cara berpikir yang
sangat lemah.
Stigma yang paling kuat
bukan yang lahir dari kebencian. Stigma yang paling kuat adalah yang lahir dari
ketidakpedulian untuk memahami kenyamanan untuk menghakimi tanpa perlu tahu
lebih jauh. Dan itu, ironisnya, bisa terjadi di mana saja: di desa, di kota, di
kampus, bahkan di ruang-ruang akademis sekalipun.
Menghakimi Adalah Pilihan, Memahami Juga
Pilihan
Pengalamanku di desa itu
mengajarkan sesuatu yang tidak aku dapatkan dari kelas manapun: bahwa penilaian
terhadap hal yang tidak dikenal adalah refleks yang sangat manusiawi tapi tetap
saja, ia adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk bertanya sebelum
menyimpulkan. Kita bisa memilih untuk melihat komunitas wibu sebagai komunitas
yang punya nilai, kegembiraan, kreativitas, dan solidaritas bukan sebagai
kumpulan orang aneh yang tidak tahu prioritas.
Stigma terhadap wibu
bukan pertanda kejahatan. Tapi ia adalah pertanda bahwa kita, sebagai
masyarakat, masih terlalu mudah menggunakan ketidaktahuan sebagai landasan
penilaian moral. Dan itu adalah masalah yang jauh lebih besar dari sekadar soal
anime.
Referensi
Hidayat,
D., & Hidayat, Z. (2020). Anime as Japanese intercultural communication: A
study of the weeaboo community of Indonesian generation Z and Y. Romanian
Journal of Communication and Public Relations, 22 (3), 85–103. https://doi.org/10.21018/RJCPR.2020.3.310
Julianto,
S. (2022). Pengaruh globalisasi terhadap penyalahgunaan istilah weeaboo dan
otaku bagi kaum muda Indonesia di Jawa dan Bali. Universitas Indonesia.
Wicaksono,
R. (2023). Stigma Sosial Terhadap Wibu (Studi Kasus Wibu di Kota Depok,
Jawa Barat) (Bachelor's thesis, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu
Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta). https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/75298
Zanitri,
N., Muis, A., & Faturahman, A. (2018). Pengaruh tayangan anime terhadap
perilaku remaja. *Jurnal Komunikasi dan Kebudayaan*, *5*(1), 1–12.
Zakia
Wulandari, A. (2024, Desember). Stigma stereotipikal masyarakat terhadap wibu.
Terabasnews. https://terabasnews.com/2024/12/09/stigma-streotipikal-masyarakat-terhadap-wibu
0 Comments