Di artikel sebelumnya, gw menulis tentang General von Zettour seorang ahli strategi yang begitu dingin, begitu kalkulatif, begitu lucid dalam membaca realita geopolitik sehingga ia rela membakar negaranya sendiri demi memancing Amerika Serikat masuk perang. Motivasinya jelas: cinta pada tanah air, dibungkus logika Clausewitzian yang gelap.
Tapi di halaman-halaman yang sama, ada karakter lain yang sedang marah besar. Bukan karena strategi militer. Bukan karena keseimbangan kekuasaan global. Bukan karena ideologi.
Dia marah karena cintanya terganggu.
Loria. Kepala polisi rahasia Federation. Salah satu figur paling berbahaya dalam dunia Youjo Senki. Dan di Volume 12, motivasi politiknya yang paling mendasar adalah... ia ingin bertemu bunga kesayangannya sebelum perang berakhir dan kesempatan itu lenyap selamanya.
I. Anomali dalam Teori Politik Klasik
Teori politik sejak Machiavelli hingga Morgenthau membangun satu asumsi fundamental: aktor politik bergerak berdasarkan kepentingan rasional. Negara mengejar kekuasaan, keamanan, dan keuntungan material. Individu dalam sistem politik diasumsikan bertindak sesuai kalkulasi kepentingan baik kepentingan pribadi maupun institusional. Ini adalah fondasi dari apa yang disebut Realpolitik: politik adalah tentang kekuatan, bukan perasaan.
Loria adalah bantahan hidup terhadap asumsi tersebut.
Sebagai kepala polisi rahasia Federation, Loria secara teknis adalah salah satu dari sedikit orang di dunia Youjo Senki yang benar-benar memiliki kapasitas intelektual untuk membaca gambit Zettour. Dan memang ia membacanya. Ia tahu bahwa serangan ke Ildoa bukan kebodohan strategis. Ia tahu ada sesuatu yang lebih dalam. Ia bahkan tahu bahwa ia sudah dipermainkan.
Tapi respon emosionalnya terhadap semua ini bukan kemarahan strategis seorang negarawan yang merasa kalah dalam permainan geopolitik. Respon emosionalnya adalah kemarahan seorang pria yang merasa kesempatannya untuk bertemu kekasihnya direbut.
"You've raised yet another obstacle on my path to love!" ~ Loria, Prologue, Vol. 12
Perhatikan urutannya. Pertama ia mengakui bahwa Zettour menyerang Ildoa di waktu dan timing yang paling berbahaya secara geopolitik. Lalu ia langsung melompat ke: ini menghalangi cintaku. Bagi Loria, krisis geopolitik terbesar dalam volume ini adalah, pada level yang paling jujur, sebuah gangguan pada jadwal kencan.
II. Mengapa Ini Justru Membuatnya Berbahaya
Ini bukan hanya komedi. Atau lebih tepatnya ini memang komedi, tapi komedi yang menyimpan sesuatu yang lebih gelap di dalamnya.
Aktor politik yang bergerak berdasarkan kepentingan rasional bisa, secara prinsip, diprediksi. Kamu bisa memetakan insentifnya, mengantisipasi gerakannya, merespons dengan kalkulasi yang setara. Itulah mengapa Realpolitik bekerja sebagai kerangka analitik ia mengasumsikan bahwa para pemain bermain dengan logika yang bisa dimodel.
Tapi bagaimana kamu memprediksi seseorang yang keputusan politiknya difilter melalui obsesi romantis? Bagaimana kamu mengantisipasi langkah dari kepala polisi rahasia yang melihat pergerakan militer bukan sebagai ancaman institusional, melainkan sebagai gangguan personal?
Carlo Zen dengan sangat cerdas menempatkan kedua karakter ini berdampingan di Volume 12 bukan sebagai kontras moral antara yang baik dan yang jahat, tapi sebagai kontras epistemologis antara dua jenis motivasi yang berbeda secara fundamental. Zettour beroperasi dari logika yang bisa diikuti, bahkan jika menyeramkan. Loria beroperasi dari sesuatu yang tidak bisa dimodelkan oleh teori politik manapun: perasaan.
III. Cinta Obsesif sebagai Kategori Politik
Ada satu kutipan dari Loria yang, kalau dicabut dari konteks absurditasnya, sebenarnya adalah pernyataan filosofis yang cukup serius:
Sebelum berlalunya waktu merusaknya. Ada kesadaran di sini bahwa objek obsesinya Tanya adalah makhluk yang sedang berada di dalam perang, di dalam bahaya, dan waktu terus berjalan. Ini bukan cinta yang pasif. Ini adalah cinta yang menciptakan urgensi, dan urgensi itu mendorong tindakan-tindakan politik yang tidak bisa dipahami melalui lensa kepentingan nasional biasa.
Dalam tradisi filsafat politik, passion hasrat, nafsu, emosi kuat selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus dikendalikan oleh akal dalam konteks kepemimpinan. Plato menempatkan hasrat di bawah rasio dalam hierarki jiwa. Kant memisahkan tindakan moral dari inclination emosional. Seluruh proyek Pencerahan dalam teori politik adalah tentang menundukkan passion di bawah reason.
Loria adalah argumen bahwa proyek itu gagal total di level individual dan bahwa kegagalan itu, dalam posisi kekuasaan tertentu, bisa menggerakkan sejarah dengan cara yang tidak bisa diprediksi oleh satu pun dari teori-teori besar tersebut.
IV. Satu Wink Terakhir
Gw ingin menutup ini dengan mengakui sesuatu: ada kemungkinan Carlo Zen memasukkan Loria semata-mata sebagai relief komedi jeda dari kedalaman gelap Zettour, sebuah absurditas yang sengaja ditempatkan untuk membuat pembaca tertawa sebelum kembali ke geopolitik yang menyeramkan.
Tapi bahkan kalau itu benar bahkan kalau Loria adalah lelucon lelucon itu mengandung insight yang genuine. Karena dunia nyata juga pernah punya Loria-nya sendiri. Pemimpin yang keputusan politiknya dipengaruhi oleh obsesi personal. Jenderal yang perang-perangnya dilatarbelakangi oleh sesuatu yang tidak akan pernah muncul di analisis geopolitik manapun. Orang-orang berkuasa yang bergerak bukan karena negara, bukan karena ideologi, tapi karena sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih tidak bisa dikendalikan.
Perasaan.
Dan Loria, kepala polisi rahasia Federation yang sedang mencabuti rambutnya sendiri karena stres memikirkan bagaimana cara bertemu Tanya sebelum perang berakhir adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar dalam sejarah kadang bukan ideologi atau kepentingan nasional.
Kadang itu hanya seseorang yang sangat, sangat ingin bertemu orang yang ia cintai.
0 Comments