Thou Shalt Be Sincere: Ketulusan sebagai Beban, Bukan Berkah dalam The Holy Grail of Eris




Ada satu pertanyaan yang diam-diam diajukan oleh The Holy Grail of Eris sejak halaman pertamanya, dan ia meletakkan pertanyaan itu dengan sangat elegan sehingga kita hampir tidak menyadarinya sampai novel ini telah mengubah cara kita menjawabnya: apa artinya menjadi tulus?

Judul Bab 3 dalam novel karya Kujira Tokiwa ini bahkan menyebutkannya secara eksplisit  "What Does It Mean to Be Sincere?" Ini bukan pertanyaan retorik. Ini adalah pertanyaan yang novel ini benar-benar coba jawab, dan jawabannya jauh lebih gelap, lebih jujur, dan lebih memuaskan daripada yang biasanya kita temukan dalam genre light novel maupun dalam diskursus populer tentang moralitas.


Sincere Heroine sebagai Trope yang Sudah Kita Kenal Terlalu Baik

Dalam narasi populer Jepang  dari shoujo manga hingga light novel romansa  ada satu arketipe heroin yang sudah begitu sering diulang sehingga hampir menjadi formula: perempuan muda yang tidak memiliki kelebihan fisik atau intelektual yang mencolok, tetapi diberkahi dengan ketulusan yang luar biasa. Ia baik hati secara refleks. Ia tidak licik, tidak ambisius, tidak manipulatif. Kekuatannya adalah kemurnian moralnya. Dan karena kemurnian itu, dunia  atau setidaknya karakter-karakter di sekitarnya  akhirnya datang kepadanya.

Trope ini bukan tanpa daya tarik. Ia menawarkan jenis fantasi yang spesifik: bahwa menjadi diri sendiri, menjadi jujur dan tulus, sudah cukup. Bahwa dunia pada akhirnya menghargai kebaikan yang tidak berpura-pura. Namun ia juga membawa asumsi yang lebih problematis: bahwa heroin yang "baik" tidak perlu belajar, tidak perlu berubah, dan terutama  tidak perlu mengotori tangannya untuk melindungi orang-orang yang ia cintai.

Constance "Connie" Grail dimulai sebagai karakter yang tampaknya dirancang untuk memenuhi trope ini dengan sempurna. Ia tidak cantik, tidak kaya, tidak memiliki kecerdasan sosial yang menonjol. Motto keluarganya, diwariskan dari leluhur pendiri, adalah "Thou shalt be sincere"  sebuah perintah moral yang telah dijalankan begitu harfiah oleh ayahnya sehingga keluarga Grail tidak memiliki tabungan sama sekali karena selalu mendistribusikan keuntungan kepada rakyat jelata. Ketulusan keluarga Grail adalah identitas, adalah warisan, adalah cara mereka memahami diri sendiri di dunia.

Dan itulah tepatnya yang membuat The Holy Grail of Eris menjadi teks yang sangat menarik secara analitis: ia mengambil trope ini dan, dengan sangat metodis, menghancurkannya dari dalam.


Ketulusan sebagai Ideologi yang Melumpuhkan

Kegeniusan konstruksi novel ini terletak pada cara ia memisahkan ketulusan sebagai nilai moral dari ketulusan sebagai strategi hidup  dan kemudian menunjukkan betapa berbahayanya ketika keduanya dicampuradukkan.

Ayah Connie adalah representasi paling jelas dari ketulusan yang telah berubah menjadi ideologi destruktif. Ia begitu tulus sehingga ketika seorang teman datang menangis meminta tolong, ia menjadi penjamin pinjaman yang mencurigakan dan menanggung utang besar  temannya kemudian menghilang tanpa jejak. Ia begitu tulus sehingga keluarganya tidak memiliki uang. Narator bahkan menyebut tradisi ini sebagai "detestable tradition"  sebuah framing yang sangat tidak biasa untuk sesuatu yang seharusnya menjadi kebajikan. Novel ini tidak bersimpati terhadap ketulusan keluarga Grail; ia melihatnya dengan mata yang jernih dan agak getir.

Yang lebih penting adalah bagaimana ketulusan ini bekerja sebagai perisai psikologis bagi Connie sendiri. Di sepanjang bagian awal novel, Connie yang "tulus" adalah Connie yang pasif  yang menerima pertunangan yang diatur, yang tidak berani melawan ketika tunangannya berselingkuh, yang bahkan ketika dipermalukan di depan publik oleh Pamela Francis, tidak memiliki senjata untuk melawan. Ketulusannya nyata, tetapi ia tidak bisa digunakan untuk mengubah apa pun. Ia adalah moralitas tanpa agen.

Dalam kajian etika, ada perbedaan penting antara moralitas sebagai seperangkat nilai yang membimbing tindakan dan moralitas sebagai alasan untuk tidak bertindak. Yang pertama adalah kebajikan; yang kedua adalah apa yang filsuf Jerman Friedrich Nietzsche dalam Beyond Good and Evil (1886) sebut sebagai slave morality  sistem nilai yang, alih-alih memberdayakan subjeknya, justru melumpuhkannya dengan merayakan pasivitas sebagai kebaikan. Connie di awal novel adalah, dalam pengertian yang tepat secara konseptual, seorang karakter yang terjebak dalam sistem nilai yang merayakan kelemahannya sebagai kesalehan.


Scarlett sebagai Cermin yang Tidak Nyaman

Masuknya Scarlett Castiel ke dalam kehidupan Connie bukan sekadar penambahan partner supernatural yang lucu. Ia adalah sebuah confrontation  sebuah konfrontasi terhadap semua yang ketulusan keluarga Grail tidak bisa dan tidak mau lakukan.

Scarlett tidak tulus. Ia manipulatif, ambisius, dan sangat kompeten dalam menggunakan sistem sosial aristokrasi untuk mencapai tujuannya. Ia tidak berpura-pura bahwa dunia adalah tempat yang adil. Dan karena itu, ia bisa bertindak di dunia dengan cara yang Connie tidak bisa. Dalam adegan bola yang menjadi salah satu momen paling signifikan dalam novel, Scarlett merasuki Connie dan menggunakan pengetahuannya tentang kode-kode aristokrasi untuk merendahkan Pamela Francis secara publik  bukan dengan kekerasan, bukan dengan kebohongan, tetapi dengan membalik kode-kode kesopanan menjadi senjata yang lebih tajam dari tuduhan langsung mana pun.

Reaksi yang muncul setelahnya sangat mengungkapkan. Di antara para tamu bola, perbandingan antara Connie dan Scarlett menjadi topik pembicaraan utama. "Everyone at the party was raising a fuss about how that insignificant viscount's daughter was just like Scarlett." Ini adalah momen di mana novel secara eksplisit menolak untuk memisahkan Connie yang "tulus" dari Scarlett yang "jahat"  karena dalam tindakan tersebut, keduanya adalah satu. Dan dunia meresponsnya bukan dengan ketidaknyamanan moral, tetapi dengan kagum.

Di sini novel sedang mengatakan sesuatu yang cukup subversif: bahwa dunia tidak menghargai ketulusan  dunia menghargai kompetensi. Dan kompetensi, dalam sistem aristokrasi yang dibangun novel ini, membutuhkan kesediaan untuk bermain dengan aturan yang tidak selalu bersih.


Arc Connie: Coming-of-Age yang Menolak Kesimpulan yang Mudah

Yang membuat arc Connie melampaui sekadar "heroine polos yang belajar jadi keras" adalah caranya novel ini menolak untuk menempatkan transformasi Connie sebagai sebuah kemenangan yang tidak ambigu.

Connie tidak berhenti menjadi tulus. Ia masih membantu Brenda Harris merapikan rambutnya di pesta bola, bukan karena ada keuntungan strategis, melainkan karena itu adalah hal yang baik untuk dilakukan. Ia masih merasakan distres moral ketika harus berbohong atau menyembunyikan kebenaran. Ketulusannya tidak hilang  tetapi ia belajar bahwa ketulusan tanpa kemampuan untuk bertindak di dunia adalah sebuah kemewahan yang tidak semua orang bisa tanggung. Terutama ketika orang-orang yang ia cintai berada dalam bahaya.

Abigail O'Brian, salah satu karakter paling tajam dalam novel, menyampaikan penilaian yang penting terhadap Connie setelah salah satu momen ketika Connie bertindak ceroboh: "You shouldn't do such dangerous things so thoughtlessly. If you're going to do something, you must prepare well. This isn't the kind of crowd you can beat with a hit-or-miss approach." Ini bukan kritik terhadap niat Connie  niatnya baik dan tidak dipertanyakan. Ini adalah kritik terhadap caranya, terhadap asumsi bahwa niat baik sudah cukup sebagai bekal untuk bertindak di dunia yang kompleks.

Arc Connie, dengan demikian, bukanlah tentang melepaskan ketulusan. Ia tentang melepaskan naivitas bahwa ketulusan adalah modal yang cukup. Dalam terminologi kajian sastra, ini adalah disillusionment narrative  narasi yang memaksa karakter utama berhadapan dengan kesenjangan antara dunia sebagaimana mereka inginkan dan dunia sebagaimana ia benar-benar bekerja, dan memilih untuk tetap bertindak di dunia yang nyata alih-alih berlindung di balik idealisme yang tidak berdaya.


Mengapa Ini Penting bagi Pembaca yang Kritis

The Holy Grail of Eris adalah novel yang merawat kompleksitasnya dengan sangat serius. Ia tidak menulis ulang trope sincere heroine dengan cara yang sinis  tidak dengan mengatakan bahwa ketulusan itu bodoh atau bahwa moralitas itu tidak berguna. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik dan lebih jujur: ia menunjukkan bahwa ketulusan adalah nilai yang nyata dan berharga, tetapi ia bukan strategi yang cukup untuk menghadapi sistem yang tidak peduli dengan ketulusan.

Motto keluarga Grail, "Thou shalt be sincere", adalah warisan yang indah. Tetapi novel ini juga menunjukkan bahwa warisan yang tidak pernah dipertanyakan bisa menjadi penjara. Connie harus belajar untuk mewarisi ketulusannya secara aktif  bukan sebagai perisai dari dunia, tetapi sebagai kompas di dalamnya.

Itu adalah coming-of-age yang gelap, ya. Tetapi juga sangat satisfying  justru karena ia tidak menawarkan jalan keluar yang mudah, dan tidak berpura-pura bahwa menjadi orang baik otomatis melindungimu dari dunia yang tidak selalu berjalan dengan logika kebaikan.


Referensi

Azuma, H. (2009). Otaku: Japan's database animals (J. E. Abel & S. Kono, Trans.). University of Minnesota Press.

Napier, S. J. (2005). Anime from Akira to Howl's Moving Castle: Experiencing contemporary Japanese animation. Palgrave Macmillan.

Nietzsche, F. (1886/2002). Beyond good and evil: Prelude to a philosophy of the future (J. Norman, Trans.). Cambridge University Press.

Ōta, T. (2012). The formation of a new subculture: Light novel readers and their practices. International Journal of Japanese Sociology, 21(1), 62–75. https://doi.org/10.1111/j.1475-6781.2012.01160.x

Tokiwa, K. (2021). The Holy Grail of Eris (J. Treuthart, Trans.). Yen Press. (Original work published 2016)

Welker, J. (2011). Flower tribes and female desire: Complicating early female consumption of male homosexuality in shōjo manga. Mechademia, 6(1), 211–228. https://doi.org/10.1353/mec.2011.0004

0 Comments