Hari ini aku lupa bahwa mereka belum tahu

 

Hari bulan puasa. Aku lapar. Mereka lapar. Tapi yang lebih banyak bicara tetap mereka anak anak kelas 3 SD yang katanya kelelahan karena puasa, padahal suara mereka tidak berhenti sedetik pun sejak aku masuk kelas.





Materinya hari ini tentang aktivitas dan tempat di sekolah. Sederhana. Atau setidaknya, menurutku sederhana.

Ada satu anak yang dari tadi tidak menulis, tidak memperhatikan, hanya duduk diam menatap ke depan dengan ekspresi yang kalau jujur langsung aku baca sebagai males. Dalam hati aku sudah menduga: ini anak memang begini, sudah biasa.

Lalu aku tanya.

Ternyata dia tidak bawa buku.

Hanya itu. Dia tidak bawa buku, jadi dia tidak tahu harus menulis di mana, jadi dia diam, jadi dia terlihat tidak peduli. Bukan malas. Bukan tidak mau. Hanya bingung dan tidak tahu bahwa bingung itu boleh diungkapkan, atau bahwa ada solusinya.

Aku suruh dia tulis di buku apa saja. Mana saja. Bebas.

Dia langsung menulis.

Hal seperti ini yang selalu membuatku berhenti sebentar. Anak kecil itu tidak akan berpikir oh, aku tidak bawa buku, berarti aku bisa pakai buku lain. Mereka butuh seseorang yang bilang: boleh. Pakai yang itu. Tidak apa apa.

Dan kalau tidak ada yang bilang, mereka hanya akan diam. Menunggu. Terlihat seperti tidak peduli.

Aku tahu ini. Aku sudah tahu ini. Tapi tetap saja tadi aku hampir salah menilai dia sebelum sempat bertanya.

Bagian keduanya ini yang lebih menyakitkan untuk diakui.

Aku mengajarkan formula I + verb + place. Langsung ke sana, tanpa basa basi. Aku pikir mereka cukup tahu bahwa verb itu kata kerja, bahwa place itu tempat. Aku pikir kita bisa langsung ke struktur kalimatnya.

Ternyata tidak.

Wajah wajah di depanku perlahan berubah bukan bingung yang aktif, bukan yang sambil mengacungkan tangan dan bertanya. Tapi bingung yang diam, yang hanya menatap papan tulis sambil menunggu sesuatu yang masuk akal muncul dengan sendirinya. Jenis bingung yang tidak akan ketahuan sampai kamu sudah terlanjur lanjut terlalu jauh.

Aku akhirnya menjelaskan bagian itu verb itu artinya aktivitas, eat, drink, read, study; place itu tempatnya, classroom, canteen, library tapi itu di akhir. Setelah formula. Setelah kebingungan sudah terlanjur mengendap.

Harusnya dari awal. Harusnya konsep dulu, baru struktur. Harusnya aku ingat bahwa yang sederhana bagiku belum tentu sederhana bagi anak yang baru pertama kali melihat kata verb tertulis di papan tulis.

Tapi begitu aku sadar, aku langsung jelaskan. Hari itu juga. Di sisa waktu yang ada. Tidak nunggu pertemuan berikutnya, tidak nunggu mereka makin bingung sendiri.

Aduhzl, tapi ya sudah.

Yang perlu diperbaiki sudah diperbaiki, di tempat, saat itu juga. Hari ini pulang tanpa hutang. Perut kosong, kepala masih penuh suara anak anak, tapi setidaknya itu.

Setidaknya si anak yang tidak bawa buku tadi akhirnya menulis juga.

Itu cukup untuk hari ini



0 Comments